TANGGAL 17 MASYARAKAT ADAT KAMPUNG NENDALI AKAN TUTUP JALAN PALANG STADION PAPUA BANGKIT

Hits: 973

PAPUAJAYA.com|SENTANI – JAYAPURA| SENIN, 15 JULI 2019 – Merasa tidak dihargai oleh Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayapura, maka Masyarakat Adat Kampung Nendali akan lakukan aksi palang stadion Papua Bangkit pada tanggal 17 Juli 2019 dengan mematikan arus lalu-lintas.

Abu Afaa Dr. John Manansang Wally, saat memberikan keterangan pers pada acara jumpa pers di Obhe Kampung Nendali, (doc foto; daniel).

Pernyataan pemalangan tersebut disampaikan pada kegiatan Jumpa pers yang dilakukan oleh Ondofolo Kampung Nendali Philep Wally didampingi beberapa tokoh adat dengan sejumlah awak media Sentani, di Obhe atau Rumah Adat Kampung Nendali.

Masyarakat Adat Kampung Nendali menuntut hak mereka dengan ukuran atau luas tanah 62 hektar, Bupati adalah Anak Ondoafi dan tau batas tanah Adat, dan harus jelas batas tanah adat Hokoitembu batasnya sampai dimana, ini yang dipertanyakan, dan kalau sudah dibayarkan, bayar sama siapa,(Senin/15/7/2019).

Abhu Afa Kampung Nendali, Dr. Jhon Manansang Wally, mengatakan, sebagai penyambung lidah pikiran dan harapan dari Ondofolo Nendali Filep Wally, tanah adat di Papua secara umum dan di Sentani secara khusus adalah tanah milik Suku secara komunal atau bersama-sama dan sifatnya turun-temurun sampai kapanpun.

“ Sejak Belanda berada disini tanah, tersebut dipakai dan dikelola untuk pertanian dan peternakan waktu itu Kampung Harapan disebut sebagai Kota Nikah, setelah Belanda keluar lokasi tersebut di ambil oleh Pemerintah Provinsi, waktu itulah terjadi persoalan besar karena Masyarakat mengkalaim bahwa tanah dilokasi tersebut seluas 62 hektar yang kepemiliikannya suku Wally dari Kampung Nendali dan kepemilikan Suku Asey, dimana dua Ondofolo, dua Kampung memiliki luasan tanah 62 hektar,” Kata Manangsang Wally.

John Manansang Wally, menambahkan, dari 62 hektar luasan tanah, 20 hektar adalah miliki Suku Ohee dari kampung Asey dan 42 hektar milik Suku Wally dari Kampung Nendali, jika ditarik cerita kebelakang bahwa 20 hektar suku Ohee adalah tanah pemberian dari suku Wally karena hubungan pernikahan atau kawin.

Tanah 42 hektar milik suku Wally telah di buktikan dengan lahirnya Keputusan Mahkama Agung nmor 381 menerangkan bahwa itu adalah tanah adat, jika Pemerintah mau kelola maka harus bayar ke Masyarakat Adat, proses waktu itu dibicarakan dari Ondofolo kepada Ondofolo maka diserahakan kepada Ondofolo Asey Hanok Ohee untuk bicara dan mengurus tanah tersebut atas nama dua Kampung Nendali dan Asey.

Masalah pembayaran tanah tersebut sudah dibicarakan dan disepakati bahwa akan dibayar dalam tiga tahap, tahap pertama dan kedua akan di bayarkan kepada Ondofolo Asey (Suku Ohee) dan tahap ketiga bayar kepada Ondofolo Nendali (Suku Wally), yang sisa yang harus dibayarkan kepada Suku Wally adalah 18 milyar 600 ribu, namun kenyataaan tidak dibayarkan kepada Suku Wally, dan dibayarkan kepada Pihak yang satu lagi.

Abu Afaa, menyampaikan, Tiga tahap tersebut dibayarkan kesebalah, dan Masyarakat Suku Rukuney, Walliney merasa dirugikan dan hanya dijadikan sebagai obyek dan tidak mendapatkan apa-apa, hal itu yang menjadi persoalan sehingga masyarakat adat Kampung Nendali akan melakukan aksi dan pemalangan di lokasi pembangunan stadion Papua bangkit agar Pamerintah segera menjawab aspirasi Masyarakat tersebut.

Redaksi : ElDan
Papuajaya.com