RUANG BADAN SUNGAI BENGAWAN SOLO MENYUSUT MENGERING.

Hits: 3689

Papuajaya.com – Solo – Sejak 29 Juli 2019, oleh Team Tirto Banyu Bamboo Batik [T2B3] berkolaborasi dengan Team [PPMAL2] Perlindungan Penghijauan Mata Air Lawang Lanjutan, Team Bamboo Spirit Nusantara dan Team Spirit Indonesia [BSN~BSI], Serta Team [ASJI: Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia], Menetapkan dan Ditetapkan 29 Juli 2019 sebagai HARI MATA AIR DUNIA, HARI KESADARAN MATA AIR DUNIA, di SUMBER MATA AIR DARISAH, Desa Sumberrejo Dusun Kucur Manggian, Kecamatan Purwosari, Pasuruan, bersama perwakilan para team tersebut.

Kita hari ini menyaksikan beterbaran asap dan api berita terbakarnya Gunung Arjuno, Gunung Kawi, dan Gunung Ringit di serangkaian Perdikan Kawasan Tumpang Singosari Gunung Bromo Jawa Timur, juga sudah menjadi viral beberapa hari ini.

Gerakan Berbagi Air di Blitar (16/10/2019) dan Panggilan Perkara Air, dalam Program PERTAMA AIR PERMATA AIR di Tangerang Lebak Pandeglang BANTEN, di Lombok NTB, di Puncak Kleco, Dewi Tinalah, Kali Bawang Kabupaten Kulon Progo, Di Borobudur Magelang, Di Taro Patas Gianyar, Di Cianjur, Di Sleman Yogyakarta, Di Solo dan seterusnya.

Di SUNGAI BENGAWAN SOLO, dengan lagu nya Gesang BENGAWAN SOLO, ..
air mu mengalir sampai jauuuhh… sekelebat terjadi sebuah pertanda dan bukti telanjang mata, bagi yang baru tersadarkan dan butuh jawaban atas panggilan air, atas perhatian kita yang berkenan pada kehadiran sangat penting dari eksistensi mata air serta makna air di sepanjang sungai dan danau di seluruh belahan bumi ini, khususnya di Indonesia kita ini.

Hari Ini TIBA TIBA BERHENTI, hari ini seperti mencekam, AIR SUNGAI BENGAWAN SOLO MENGERING DI RUANG BADAN SUNGAI nya,

Sekarang Bagi Kita, untuk sampai pada betapa Pentingnya TATA KELOLA AIR, pada aliran IRIGASI AIR seperti SUBAK BALI NTB, hingga TATA aliran air Sungai Radiasi Sungai Radius Urat Syaraf dan Syarat berKehidupan di Desa Dusun Kota sebagaimana Tata SURA NADI di BALI LOMBOK NTB.

Sekarang pertanyaan Agungnya dimanakah DNA Genial Genetik Generative dari Empu Empu Air dan Mata Air Indonesia saat ini, seperti ada padanya; DNA Para Leluhur Manusantara Kita berupa Ilmu Pengetahuan Teknologi EMPU BOGOWONTO DI KEDIRI?!?

Kita ternyata menemukan dalam Yayasan Sejati Husada Janurkupat Merah Putih SINGOSARI dan Komunitas Yusuf HAMUR NAWAK Puthuk Tumpang Malang dan terutama di PPMAL2 Lawang, yang selama durasi 29 Tahun, sudah “mandegani” dibina di kerjakan secara nyata oleh Slamet Haryanto dkk, Petugas Lapangan Dan Penyuluh PHBS [Perilaku Hidup Bersih dan Sehat] PUSKESMAS Kecamatan Lawang, SAKA BAKTI HUSADA Kecamatan Lawang, Team SAR LAWANG dan Jatim, mampu dan sudah memiliki Teknologi Kuno Modern Klasik Membiakkan dan Menumbuhkan debit air dari 63 Titik Mata Air di 12 Desa Sekecamatan Lawang menjadi 86 Titik Mata Air, selama kurun durasi 29 Tahun tersebut, bersama segenap Crue, Tua Dewasa Anak Muda Mudi, Team di atas beserta Masyarakat Desa Kecamatan Lawang, yang sudah tersadar
kan, PENTINGNYA PROGRAM PERTAMA AIR PER MATA AIR.

Sebagai Team Tirto Banyu Bamboo Batik Indonesia 2019, Moehammad Moe di Sasak Lombok, mendapat konfirmasi dari salah satu tetua di sana, AMAK menyebutkan “AIR dan MATA AIR ini, bukan semata mata perkara Lombok dan Indonesia, tapi ini urusan dan perkara seDunia, Moe.”

Di Dusun Manggian Kucur Desa Sumberrejo Purwosari Pasuruan Jawa Timur di Kaki Gunung Arjuno di depan Sungai Jempinang, Team PPMAL2 membuat Kapal Bamboo Peradaban berbadan 15 meter dengan ketinggian di atas rata rata air, Peradaban Manusantara atas Sungai Laut dan Samudera dari dahulu kini dan massa depan Indonesia, sejak bulan Maret 2019 dan seterusnya beserta Program Taman dan Pertanian Tanaman Obat Toga, Jamu Herba Gunung Arjuno, sebagai Model Aplikasi dan Implementasi Program Gerakan Penghijauan Mata Air dan Program PerTama Air PerMata Air berbasis Pohon Bamboo, Gayam, Beringin, Kecrutan, Waru, Tanaman Pangan Organik dan Bahan Baku Ramuan Jamu Herba Toga Murni Organik Lestari.

Penulis Guntur Bisowarno Partisipan Terlibat Aktif.