November 1945 Pejuang- Pejuang Surabaya Mampu Menghadapi Sekutu Dengan Bambu Runcing dan Senjata Seadanya

Hits: 461

papuajaya.com– Jakarta — Kamis (10/11/2022) Pertempuran dahsyat di Surabaya, yang dimulai pada 10 November 1945, telah menjadi catatan sejarah Dunia. Betapa tentara pemenang Perang Dunia II yang bersenjatakan lengkap dan modern ini kerepotan menghadapi pejuang-pejuang Indonesia dengan senjata apa adanya, yang bertempur mati-matian, untuk mempertahanan Kemerdekaan yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Pejuang Pejuang Surabaya bersenjatakan Senapan Arisaka yang dirampas dari tentara Jepang. November 1945
Pejuang Pejuang Surabaya bersenjatakan Senapan Arisaka yang dirampas dari tentara Jepang. November 1945
Pejuang Pejuang Surabaya mengawaki Meriam-Meriam Penangkis Serangan Udara pada Pertempuran Surabaya, November 1945.
Pejuang Pejuang Surabaya mengawaki Meriam-Meriam Penangkis Serangan Udara pada Pertempuran Surabaya, November 1945.

Kesemuanya bermula saat Brigade Infanteri ke-43, Divisi ke-23 Sekutu, berkekuatan 6000 prajurit dibawah komando Brigjen AWS Mallaby, mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Mereka meminta rakyat Surabaya menyerahkan senjata mereka kepada Sekutu.

Sudah pasti, para pejuang Surabaya tidak mau menyerahkan senjata hasil rampasan dari gudang senjata Tentara Jepang itu. Pemuda-Pemuda Surabaya sudah mulai percaya diri sejak berhasil membongkar dan merampas 30.000 senjata tentara Jepang dari gudang senjata Jalan Don Bosco, pada 30 September 1945, yang dipimpin Mohamad Mangoendiprodjo, Bung Tomo, M. Jasin, Abdul Wahab dan para anggota dari Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Pertempuran antara pejuang Surabaya melawan tentara Sekutu pecah pada 26, 27, 28 dan 29 Oktober 1945.

Tentara Sekutu kewalahan, sekitar 400 perwira dan prajurit mereka tewas, hampir punah, sedang 6000 pejuang Surabaya gugur dan luka-luka. Komandan Pasukan Sekutu di Jakarta, Mayjen Hawthorn meminta Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk terbang ke Surabaya guna menenangkan rakyat.
Pada 30 Oktober 1945, perundingan dilaksanakan di Surabaya dan gencatan senjata disepakati.

Dibentuk Kontak Biro guna mengawasi gencatan senjata, dengan anggota dari pihak Sekutu: Brigjen Mallaby, Kol. LHO Pugh, Wing Commander Groom, Mayor M.Hudson dan Kapten Shaw. Sedang dari pihak Indonesia terdiri: Residen Soedirman, Doel Arnowo, Atmadji, Mohamad Mangoendiprodjo, Soengkono, Soejono, Koesnandar, Roeslan Abdoel Gani serta TD Kundan sebagai penterjemah.

Suasana Kota Surabaya kembali tenang, suara tembak menembak tidak terdengar lagi.
Pada sore harinya, rombongan Kontak Biro berkeliling kota Surabaya guna meninjau proses gencatan senjata.

Setiba mereka di depan Gedung Internatio, dekat Jembatan Merah, rombongan dicegat Pemuda Pejuang yang protes bahwa Pasukan Sekutu masih menduduki gedung Internatio dan minta agar pasukan Sekutu mundur ke Pelabuhan Tanjung Perak. Kontak Biro mengutus Mohamad Mangoendiprodjo dan Kapten Shaw masuk ke Gedung Internatio untuk berunding.

Saat perundingan tengah berlangsung, terjadi tembak menembak, mobil Brigjen AWS Mallaby meledak dan hancur menewaskan Sang Jenderal.

Sekutu marah besar dan mengultimatum bahwa apabila pada 9 November 1945 rakyat tidak menyerahkan senjatanya, maka pada 10 November 1945 Kota Surabaya akan dihancurkan dari darat, laut dan udara.

Mendekati tanggal 10 November 1945, kedua belah pihak bersiap untuk menghadapi situasi genting ini. Berbagai negosiasi diupayakan oleh Gubernur Soerjo dengan pihak Sekutu, tetapi gagal.

Presiden Soekarno menyerahkan mandat kepada Gubernur Soerjo untuk mengambil keputusan. Rakyat bersiap-siap untuk bertempur. Resolusi Jihad, yang ditanda-tangani Kyai Hasjim Asjhari pada 22 Oktober 1945, berhasil menggerakkan ribuan pemuda bersenjatakan bambu runcing yang sudah diberi doa, antara lain oleh Kyai Manshur dari Kali Pucung, untuk masuk ke Surabaya guna menghadapi Sekutu.

Konon, bambu runcing yang telah diberi doa ini, apabila ditancapkan ke tanah akan membuat sang pejuang tidak bisa dilihat oleh tentara sekutu. Satuan- Satuan Indonesia dari Tentara Keamanan (TKR) dipimpin Mohamad Mangoendiprodjo, TKR-Laut, Pemuda Republik Indonesia (PRI) dipimpin Soemarsono, Pasukan Berani Mati (PBM), Polisi Istimewa dipimpin M.Jasin, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dipimpin BungTomo, Badan Keamanan Rakyat (BKR), BKR-Pelajar dipimpin Ismaun, Barisan Buruh Indonesia (BBI) dipimpin Sjamsu Hardja Udaja, Angkatan Pemuda Indonesia (API) dipimpin Achmad Mustofa, Pemuda Republik Indonesia Sulawesi (PRISAI), Pasukan Sekolah Teknik Surabaya (STS) dipimpin Soenarto, Pemuda – Putri Republik Indonesia (PPRI) dipimpin Lukitaningsih, Layskar Hisbullah dipimpin H.Abdanafik dan satuan-satuan pemuda pejuang lainnya siap siaga.

Pihak Sekutu, secara diam diam, juga mendatangkan pasukannya ke Surabaya, termasuk Divisi ke-5 Sekutu, berkekuatan 24,000 tentara, sisa tambahan Brigade-49/Divisi ke-23, serta 1500 marinir Inggris, kesemuanya dibawah komando Mayjen RC Mansergh. Angkatan Laut Inggris menambah kekuatan dengan satu kapal penjelajah (cruiser) dan tiga kapal perusak (destroyer), dibawah Laksamana Sir WR Patterson.

Sedang Letjen Sir Phillips Cristison membawakan skadron pesawat tempur P-47 Thunderbolt, Skadron pesawat tempur DH-98 Mosquito, satu Eskadron Tank Sherman, satu Eskadron Tank Stuart, meriam-meriam artileri 25 pound dan meriam-meriam Howitzer.

Jelas, ini adu-kekuatan yang tidak berimbang karena para pejuang Surabaya hanya bersenjatakan senapan Arisaka ex Jepang, senapan Lee Enfield ex Belanda, senapan mesin water-cooled M1917, senapan mesin Bren Gun, juga beberapa pucuk mortir, panser Marmon Harrington hasil sitaan, beberapa tank bren carrier dan beberapa ranjau tank. Resimen TKR Gajah Mada mengerahkan batalyon artileri dengan kekuatan 28 pucuk meriam penangkis serangan udara, diposisikan di Karang Pilang, Gresik, serta di sebelah selatan Sungai Brantas.

Tambahan 6 pucuk meriam dioperasikan oleh para Taruna Akademi Militer Yogya yang khusus didatangkan dari Kampus mereka di Kota Baru, Yogyakarta, mengambil posisi di Gunu Sahari.
Tepat pukul 06.00, 10 November 1945, Sekutu mulai membombardir Surabaya lewat meriam kapal-kapal perang mereka dari Armada 5th Cruiser Squadron. Ribuan warga sipil tewas seketika, terutama di wilayah Pasar Turi.

Pesawat-Pesawat P-47 Thunderbolt dan DH-98 Mosquito melancarkan serangan udara kearah posisi pasukan-pasukan pejuang. Komandan Pertahanan Kota Surabaya, Soengkono, membagi wilayah pertahanan Surabaya menjadi tiga sektor, yaitu sektor Barat
dipimpin Koenkijat, Sektor tengah dipimpin Kretarto dan Mahardo, sektor Timur dipimpin Kadim Prawirodihardjo.

Kobaran semangat pertempuran dikumandangkan oleh Bung Tomo lewat Radio Pemberontak. Pertempuran hebat terjadi di wilayah jembatan Viaduct, disekitar Masjid Kemayoran, disekitarnya wilayah Lindeteves, di sekitar Jalan Simpang depan Rumah Gubernur Jawa Timur, di wilayah Jalan Peneleh dan di wilayah Alun-Alun Contong.

Pasukan Sekutu terkejut atas perlawanan luar biasa para pejuang Surabaya. Tadinya mereka mentargetkan dapat menguasai Surabaya dalam tempo tiga hari saja, namun ternyata pertempuran besar-besaran baru berakhir pada 28 November 1945 di wilayah Gunung Sahari, sedang pertempuran pertempuran kecil terus berlanjut hingga bulan Desember 1945.

Dalam pertempuran tiga minggu ini, pihak Sekutu kehilangan sekitar 600 – 2000 tentaranya termasuk seorang Jenderal, yaitu Brigjen Robert Guy Loder Symonds yang pesawatnya jatuh ditembak meriam anti serangan udara TKR. Korban jiwa pejuang sekitar 6,000 – 16,000, korban jiwa rakyat sipil Surabaya sekitar 20,000 dan 150,000 warga harus mengungsi keluar kota.

Pihak Sekutu menyatakan bahwa Operasi Militer di Surabaya ini adalah untuk memberikan pelajaran dan hukuman bagi para pemberontak. Namun bagi para pejuang Surabaya, justru ini semakin meneguhkan semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi tegaknya Kemerdekaan RI.

Terbukti, pada 10 November 1946, setahun setelah Peristiwa Surabaya, Sekutu hengkang dari Indonesia, sedang rakyat Indonesia memperingati Peristiwa Pertempuran 10 November 1945 Surabaya sebagai Hari Pahlawan.

Dikisahkan oleh:
Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, MSc
Ketua Dewan Kurator Museum Soesilo Soedarman, Cilacap.
(Lina)