Mewujudkan Keberhasilan Pembangunan: Catatan dari Webinar Internasional DPP PKS “Making Development Work

Hits: 438

Papuajaya.com –Jakarta – Selasa (30/03/2021) Bincang Ekonomi dan Keuangan DPP PKS saat webinar internasional dengan tema “Making Development Work” pada hari Rabu (24/03/2021), Webinar ini dibuka oleh M. Syaikhu Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Dr. Anis Byarwati selaku Ketua Bidang Ekonomi dan Keuangan (Ekuin) DPP PKS.

Dalam sambutannya Presiden PKS, Ahmad Syaikhu (AS) mengkritisi pendekatan pembangunan neoliberal yang dianggap tidak menyelesaikan persoalan pembangunan yang ada dinegara-negara berkembang, bahkan menimbulkan banyak persoalan baru seperti ketimpangan ekonomi dan sosial yang tinggi, kerusakan lingkungan hidup, bahkan korupsi yang merajalela.

Sedangkan Ketua Bidang Ekonomi dan Keuangan, DPP PKS, Dr. Anis Byarwati (AB), dalam sambutannya menekankan tentang pembangunan sebagai salah satu masalah penting yang dihadapi sebagian besar negara Muslim saat ini termasuk Indonesia.

Webinar Internasional ini dipandu oleh Farouk Abdullah Alwyni (FAA), MA, MBA, ACSI, CDIF (Ketua Departemen Ekonomi & Pembangunan, DPP PKS), dan menghadirkan dua pembicara internasional Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh (pendiri Islamic Development Management Studies [ISDEV] – Universiti Sains Malaysia) dan Prof. Dr. Murat Yulek (Rektor Ostim Technical University Turki).

Dalam pembukaan diskusi ini FAA, yang juga merupakan mantan profesional senior di kantor pusat Islamic Development Bank (IDB), Jeddah Saudi Arabia, menyampaikan bahwa latar belakang dari pemilihan tema Making Development Work adalah karena melihat tantangan pembangunan yang dihadapi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan klasifikasi International Monetary Fund (IMF), dari lebih 220 negara didunia dewasa ini hanya 39 negara yang dapat dianggap sebagai negara maju.

Bagaimana dengan yang lain? Sebagai contoh, Indonesia adalah negara yang telah merdeka sejak 1945, tetapi Indonesia masih berjuang dengan isu-isu pembangunan, dan baru saja naik kelas ke level negara berpendapatan menengah keatas dengan pendapatan nasional per kapita sekitar US$ 4,000.

Dari kondisi-kondisi diatas, FAA menyatakan bahwa kajian terkait bagaimana membuat pembangunan yang berhasil (making development work) menjadi penting. Intinya adalah bagaimana merealisasikan pembangunan yang berhasil, yang dapat mentransformasi sebuah negara menjadi sebuah negara maju dengan pendapatan per kapita yang tinggi, distribusi pendapatan yang lebih merata, pemerintahan yang melayani rakyat, fasilitas kesehatan dan pendidikan dengan kualitas yang tinggi, jaringan pengaman sosial yang kuat, infrastruktur yang sangat baik, dan lain lain.

Selanjutnya FAA memulai diskusi ini dengan memaparkan satu isu terkait “Islamicity Index.” Sebuah index yang pada awalnya diciptakan oleh dua professor dari George Washington University ditahun 2010. Index ini pada dasarnya mencoba mengukur level keIslamian sebuah negara yang direfleksikan dari kepatuhannya terhadap prinsip-prinsip fundamental dari Islam diantaranya seperti peluang yang sama untuk berkembang, keadilan sosial dan ekonomi, ketiadaan korupsi, aturan hukum (rule of law), menghargai martabat kemanusiaan dan kebebasan, otoritas politik yang sah, tata kelola yang baik, dan juga kontribusi kepada dunia/kemanusiaan.

FAA melihat walaupun masih ada ruang terbuka dalam penyempurnaan Islamicity Index ini, tetapi indeks ini berupaya membantu negara-negara mayoritas muslim untuk mempunyai sebuah standar yang sesuai dengan nilai-nilai Islam universal dalam kerangka memperbaiki kinerja ekonomi, hukum, tata kelola negara, hak asasi manusia, hak politik, dan kontribusi terhadap dunia dari negara-negara mayoritas muslim, yang pada akhirnya justru akan meningkatkan level pembangunan pada negara-negara muslim dan akan membuatnya setara dengan negara-negara maju yang ada sekarang.

Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh (MSS) dalam gilirannya mengangkat isu How to Sustain Islamic-Based Development. Menurut MSS tema making development work dapat didekati dari dua perspektif. Perspektif ethnosentrik Barat dengan berbagai variannya (neo-classical ataupun radical theories) dan perspektif Islam (Tauhid [Aqidah], Fiqh [Shariah], dan Tasawuf [Akhlak]). Alumnus PhD Oxford University ini menyakini bahwa sebagai seorang Muslim, Islamic-based Development (pembangunan berbasis Islam) ataupun Islamic development management (manajemen pembangunan Islam) adalah aplikasi pembangunan yang akan membawa keberhasilan (making development work).
MSS melihat bahwa kondisi dimana mayoritas negara-negara Muslim yang masih terbelakang saat ini adalah karena mereka tidak mengaplikasikan Islamic-based Development (IbD).

Presentasi terakhir disampaikan oleh Prof. Dr. Murat Yulek (MY) yang mengangkat topik “How Nations Succeed.” Mantan ekonom IMF ini mendekati isu keberhasilan pembangunan dengan menekankan pentingnya pengembangan sektor manufaktur. MY mengakui bahwa manufaktur adalah sebuah gagasan lama, tetapi masih tetap penting sampai sekarang.
(fri)