Launching Buku dan Diskusi Publik : Asmat Mutiara Timur Yang Terpendam?

Hits: 477

Papuajaya.com — Jakarta — Pasca KLB (Kejadian Luar Biasa) pemerintah masih melanjutkan program pemenuhan gizi dan pendampingan bagi keluarga yang anak- anaknya mengalami gizi buruk di Asmat Papua. Dompet dhuafa bersama lembaga swadaya masyarakat turut serta bersama pemerintah menanggulangi masalah kesehatan dan gizi buruk. Berdasarkan pengalaman di Asmat Dompet dhuafa menggelar diskusi publik dan launching buku Jumat (01/11/2019) di sebuah Hotel di daerah Mampang Prapatan Jakarta Selatan.

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi publik yakni: Prof.DR.dr.Soedjatmiko,Sp.A(K) M.si pakar tumbuh kembang anak, DR.RR.Dhian Probhiyekti SKM,MA Direktur guzu masyarakat kementrian kesehatan RI, dr. Yeni Purnamasari,MKM General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa, Bonefasius Manafin Relawan orang asli Papua (OAP) dan perawat Puskesmas.

Menurut dr.Yeni Purnamasari,MKM selaku manajer kesehatan dompet dhuafa, mengatakan ‘Dompet Dhuafa’ berkonstribusi dalam penanganan gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, dan melakukan pendampingan sejak tahun 2018 hingga kini dengan mendirikan pos sehat. Kegiatan yang dilakukan adalah layanan kesehatan dan pojok nutrisi keluarga berupa pelayanan untuk penanganan gizi buruk dan campak. Program ini bersifat kontinyu dan berkelanjutan untuk mengedukasi masyarakat setempat dan membangun kapasitas budaya lokal. Pos sehat terdiri dari kemitraan masyarakat untuk terlibat sebagai kader dan relawan sehat serta mitra lainnya seperti pemerintah daerah, puskesmas, dinas kesehatan serta tokoh masyarakat.

Bonefasius Manafin menyampaikan sebagai orang asli Papua sangat mengapresiasi bantuan yang diberikan oleh dompet dhuafa namun ada beberapa kendala yang dihadapi di Papua terkait adat istiadat seperti saat pemberian makanan untuk anak yang kurang gizi apabila dibawa pulang jatah makanan akan diberikan kepada bapak dan anak tertua, hanya sebahagian kecil yang diberikan pada anak yang justru bergizi buruk, kadang saat penyuluh kesehatan datang mereka tak berada di rumah karena saat mencari kayu gaharu dan memanen sagu mereka biasanya memboyong semua keluarga ke hutan. Begitupun saat diberikan kelambu tidak dipakai saat tidur melainkan dipakainya untuk menjala ikan di sungai. Jadi butuh kesabaran para penyuluh kesehatan yang bertugas disana dan peran serta tokoh masyarakat.

Prof. Soedjatmiko menyarankan pentingnya imunisasi pada balita, serta memberikan makanan bergizi untuk mencegah berbagai penyakit agar tidak menghambat tumbuh kembang anak.

“Dompet dhuafa bersama gerakan kesehatan bertumpu pada pilar pelayanan kesehatan yang berkualitas, pembelaan dalam bentuk pendampingan terhadap akses jaminan kesehatan nasional dan pemberdayaan kesehatan masyarakat dengan upaya aktivasi UKBM berbasis pos sehat telah mengimplementasikan program jaring kesehatan ibu dan anak (JKIA) serta Saving Next Generation Institute (SNGI) berbasis pemberdayaan kader dan komunitas masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan kematian ibu dan anak, pendampingan tumbuh kembang bayi, balita serta upaya lain dalam mendukung tercapainya tujuan SDGs nol kelaparan dan hidup sejahtera,” tutup dr.Yeni Purnamasari.
(fri)