Keterlibatan Multidimensi Kunci Pengelolaan Gambut Berkelanjutan

Hits: 578

Papuajaya.com — Jakarta — Keterlibatan multipihak dalam pengelolaan gambut yang berkelanjutan menjadi kunci untuk
mencapai keseimbangan dalam aspek lingkungan, sosial kemasyarakatan, dan ekonomi. Praktik
yang saat ini sudah dilakukan di sejumlah lokasi di Indonesia bisa menjadi pembelajaran.
Hal tersebut diungkapkan dalam Webinar “Praktik Pengelolaan Gambut untuk Pengembangan
Ekonomi, Lingkungan dan Masyarakat” yang merupakan seri kedua jelang Kongres dan Seminar
Internasional HGI Oktober 2021. Webinar dibuka oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (LHK) Alue Dohong serta menghadirkan pembicara di bidangnya yaitu Kepala Badan Restorasi Gambut
dan Mangrove, Hartono Prawiraatmadja, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan
Kerusakan Lingkungan Kementerian LHK Karliansyah, dan peneliti utama Badan Penelitian dan
Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertanian (Kementan) ,Profesor Fahmudin Agus.
Ketua Umum HGI Profesor Supiandi Sabiham mengatakan kerjasama antara pemerintah, swasta,
akademisi, dan masyarakat sangat signifikan untuk mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

👆Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Karliansyah👆🏻
👆Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Karliansyah👆🏻

“Dari sisi ekonomi pemanfaatan harus berlandaskan teknologi yang bersifat adaptif.
Dari sisi lingkungan harus berlandaskan pada kemampuan dan kesesuaian lahan. Dari sisi sosial masyarakat,
pemanfaatan harus berlandaskan kerjasama antara masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah,”
kata Supiandi saat Webinar HGI, Kamis (11/02/2021).

Terkait isu kompleksitas sifat lahan maka lahan gambut untuk penggunaan lain haruslah yang
hutannya sudah rusak. Jadi tujuan pemanfaatan adalah untuk merevitalisasi lahan gambut yang sudah rusak.
Terkait isu deforestasi maka yang harus dilakukan ke depan adalah memfokuskan pengembangan pemanfaatan secara intensifikasi. Sementara terkait isu perubahan sifat penting
lahan gambut maka perlu dilakukan pemanfaatan secara bijak.

Peneliti Utama Balitbang Kementan Profesor Fahmudin Agus mengatakan lahan gambut memiliki
peran yang sangat strategis. Dari sisi jasa lingkungan, gambut memiliki peran untuk menyimpan air
di musim penghujan dan mendistribusikannya di musim kemarau. Gambut juga menjadi penyimpan
karbon serta tempat hidup untuk flora dan fauna khas gambut. Selain itu gambut juga memiliki
peran ekonomi sebagai produksi pertanian.
Menurut Fahmudin, ada trade-off peran gambut sebagai jasa lingkungan dan produksi pertanian.
“Untuk itu lahan gambut perlu dikelola agar manfaat lingkungannya tidak cepat terkuras dan
produksi pertanian bisa optimal.

Fahmudin menyatakan pentingnya memperhatikan ketebalan gambut untuk melakukan aktivitas
budidaya pertanian. Menurutnya, untuk tanaman semusim berupa tanaman pangan seperti jagung
atau padi serta tanaman hortikultura seperti cabai cocok dilakukan dilahan gambut dangkal.

Budidaya pertanian di lahan gambut harus tetap menerapkan teknologi pemanfaatan ramah
lingkungan. Termasuk di dalamnya adalah persiapan lahan tanpa bakar, pengelolaan air untuk
mengatur kelembaban tanah, penggunaan pupuk rendah emisi gas rumah kaca, dan dilakukannya
pengendalian organisme penganggu tanaman (OPT) terpadu.
Komitmen pelaku usaha
Pengurus Bidang Keberlanjutan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Bandung.
Sahari menegaskan komitmen para pelaku usaha perkebunan sawit untuk tetap menerapkan
pengelolaan lahan gambut berkelanjutan.
Dia menjelaskan komitmen tersebut diwujudkan dengan implementasi Indonesia of Sustainable
Palm Oil (ISPO) yang dengan tegas mengatur bagaimana pengelolaan gambut berkelanjutan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
“Ini didukung komitmen
kuat pemerintah untuk pengelolan gambut berkelanjutan,” tegasnya

Adapun, pelaku usaha pulp dan kertas menegaskan bahwa pengelolaan gambut yang berkelanjutan
sangat bergantung pada kemajuan teknologi untuk ketersediaan data, disamping juga selalu 7
memperhatikan aspek kesejahteraan masyarakat.

Iwan Setiawan Deputy Director of Corporate Strategic and Relation APP Sinar Mas menuturkan
pentingnya identifikasi lahan gambut seperti sebaran, topografi, ketebalan, tingkat kematangan
pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, termasuk didalamnya pengelolaan secara
kolaboratif dengan pendekatan lanskap yang akan saling berpengaruh.
“Kami mengkombinasikan
metode remotes sensing dan survey lapangan untuk mendapatkan data yang akurat,” jelas Iwan.

Sementara itu, Deputy Director Sustaianability & Stakeholder Engagement APRIL Group , Dian
Novarina menyatakan pemanfaatan gambut berkelanjutan berarti juga kemajuan yang inklusif
untuk kesejahteraan masyarakat. “Kami melakukan pemberdayaan masyarakat melalui prakar sa
transformatif dalam APRIL 2030. Salah satu targetnya nol kemiskinan ekstrem pada radius 50 km
dari wilayah operasional kami,” katanya.
(fri)