KESADARAN 2 Pemerintahan dalam Kesepakatan Kerja Prasasti PURA ULUN RANU PANE

Hits: 894

Papuajaya.com -Purwosari Pasuruan Menuju Lumajang bersama Bali, Jumat Pahing, 15 Juli 2022. BUKTI KESEPAKATAN KERJA, KERJA SAMA Antara Pemerintah Lumajang dan Pemerintah Bali, secara kreatif, inovatif, transformatif, aplikatif sudah terlaksana serta diselenggarakanNya, beserta segenap PELUANG & POTENSI program dan aktivitas dampak manfaat positip yang bisa berkelanjutan di dalamnya.

*Pelaku Sejarah Kemajuan Antar Pemerintahan JAWA BALI* :

Wagub Bali Cok Ace dan Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq Tandatangani Prasasti Pura Ulun Ranu Pane Lumajang

Lumajang – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok Oka Sukawati yang didampingi Ny. Tjok Putri Hariyani Ardhana Sukawati, dan sejumlah Kepala OPD Provinsi Bali merasa terharu atas pembangunan wantilan Pura Ulun Ranu Pane dan pelataran jaba sisi (halaman luar) pura yang nampak sudah rapi dengan penataan paving dan tanaman, lengkap dengan gapura yang kokoh.

“Keinginan dan rencana untuk membenahi pelataran jaba sisi pura dan membuatkan satu wantilan yang nantinya sebagai tempat pemedek berteduh jika turun hujan dan untuk beristirahat, baru setahun yang lalu saya utarakan kepada Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq, namun saat ini saya lihat sudah tertata rapi, indah dan juga bersih. Sungguh luar biasa, ini menunjukkan adanya kesamaan visi antara pemerintah daerah Bali dengan pemerintah Kabupaten Lumajang,” hal ini disampaikan Wagub Bali yang akrab disapa Cok Ace dalam sambutannya saat upacara pemelaspasan sekaligus penandatanganan prasasti, peletakan batu dasar pembangunan wantilan sekaligus piodalan Pura Ulun Ranu Pane, Lumajang, Jawa Timur, Kamis, Wraspati Umanis, Wuku Pahang (14/7).

*6 Prinsip Kesadaran Pemerintah dan Masyarakat Adat dalam Membangun Bali* :

Dipaparkan Wagub Cok Ace, bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Lumajang sudah sejalan dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, dimana terdapat enam (6) point’ utama yang diterapkan dalam membangun Bali.
Keenam point yang dijabarkan antara lain

Yang Pertama adalah Atma Kerthi yakni sebuah konsep menjaga hubungan baik antara manusia dengan Hyang Pencipta. Terutama dalam upaya mewujudkan upacara piodalan yang dilaksanakan minimal setahun sekali untuk mengimbangi pembangunan fisik pura.

Yang Kedua adalah Jana Kerthi yakni manusia sebagai makhluk pribadi harus mampu melakukan penyeimbangan antar pikiran dan perasaan agar tumbuh harmonisasi dalam hidup, baik itu dengan sesama makhluk dan juga alam semesta.

Yang Ketiga adalah Jagad Kerthi dimana manusia sebagai makhluk sosial diharapkan mampu menjaga integritas dan sinergitas hubungan persaudaraan baik antara masyarakat Bali dengan masyarakat Lumajang.

Yang Keempat adalah Danu Kerthi
dimana kita semua wajib turut serta melakukan pengelolaan agar danau yang ada di sekitar pura bisa berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat setempat. Oleh sebab itu dalam rangka menjaga kesucian tempat dan lingkungan sekitar maka perlu dilakukan upacara pakelem.

Yang Kelima adalah Wana Kerthi yang mengisyaratkan kita sebagai makhluk Tuhan paling sempurna diantara yang lain mampu berperan serta menjaga dan melindungi kawasan hutan agar tetap hijau dan lestari.

Sedangkan

Yang Keenam adalah Segara Kerthi yang memiliki makna agar kita semua menjaga lingkungan dan kebersihan sungai atau laut.

*INILAH Kesadaran Seni Budaya Adat Tradisi Yang Sangat Agung yakni Persaudaraan, Kedamaian dan Kerukunan* :

Ditambahkan Wagub Cok Ace, letak Pura Ulun Ranu Pane yang berdekatan dengan masjid penduduk setempat, diharapkan tetap damai dan rukun, tanpa harus bergesekan. Karena hanya dengan rukun dan hidup saling berdampingan penuh toleransi lah kita akan dapat fokus membangun wilayah domisili kita. “Jangan sampai kita terpecah belah hanya karena hal kecil. Jika terdapat satu permasalahan, marilah kita duduk bersama dan bertukar pendapat. Sehingga tidak akan ada satu orangpun yang mampu memecah kedaulatan dan keutuhan kita bersaudara,” tegas Wagub Cok Ace yang juga salah satu Penglingsir Puri Ubud ini.

*Peluang Pura & Masjid Bhinneka Tunggal Ika, Kerukunan Umat Beragama*:

Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq yang hadir didampingi istri dan segenap jajarannya menyampaikan bahwa Pura Ulun Ranu Pane ini adalah pura yang terletak 2100 meter diatas permukaan laut (mdpl) dan menjadi tempat jujukan masyarakat yang ada di Ranu Pane ini adalah masyarakat majemuk yang memiliki nilai budaya dan cara hidup hindu yang diteruskan oleh masyarakat setempat, disamping juga menjadi nilai penghormatan kepada umat Hindu, dengan umat yang berbeda agama, karena disamping Pura Ulun Ranu Pane juga terdapat satu masjid yang digunakan bersembahyang bagi masyarakat setempat yang beragama Islam.

*Target dan Harapan atas Aplikasi Kerjasama Wisata Religi* :

“Sesuai rencana, didepan Pura Ulun Ranu Pane akan dibuatkan rest area, sehingga bagi umat Hindu atau Islam yang datang untuk beribadah di tempat sucinya masing-masing akan merasakan suasana Wisata Religi yang sesungguhnya. Di samping Pura terdapat hamparan Danau yang berhawa sejuk, depan Pura terdapat rest area yang ditata dan dibuatkan tempat bagi pelaku UMKM, dengan begitu perekonomian masyarakat setempat juga akan berputar dengan baik”, ungkap Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq.

*Membutuhkan Analisa & Monitoring Evaluasi Dampak Positip Berkelanjutan*

Ketua PHDI Kabupaten Lumajang Edy Sumianto mengatakan bahwa keberadaan Pura Ulun Ranu Pane diharapkan mampu memberikan Vibrasi Positif bagi masyarakat sekitar sehingga mampu memajukan Kabupaten Lumajang secara bersama sama ke depannya.

*Program Aplikasi SINERGITAS 2 Pemerintahan*

Pihaknya juga sangat berterima kasih kepada Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok. Oka Sukawati (Cok Ace) dan Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq yang dengan gigih dan konsisten melakukan Penataan Pura hingga menjadi seperti saat ini.

Catatan Penting Untuk Prospek, Peluang dan Potensi Kerjasama semakin Kreatif, Inovatif, Produktif, Transformatif serta Aplikatif di Tahap Selanjutnya:

Nangun Sat Kerthi Loka Bali

VISI “NANGUN SAT KERTHI LOKA BALI”

Mengandung makna : “Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali Beserta Isinya, Untuk Mewujudkan Kehidupan Krama Bali Yang Sejahtera dan Bahagia, Sakala-Niskala Menuju Kehidupan Krama dan Gumi Bali Sesuai Dengan Prinsip Trisakti Bung Karno: Berdaulat secara Politik, Berdikari Secara Ekonomi, dan Berkepribadian  alam Kebudayaan Melalui Pembangunan Secara Terpola, Menyeluruh, Terencana, Terarah, dan  erintegrasi Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Dalam Mewujudkan VISI tersebut ditempuh melalui 22 (dua puluh dua) MISI Pembangunan Bali yang menjadi arah kebijakan Pembangunan Bali sebagai pelaksanaan Pola Pembangunan Semesta Berencana.

1. Memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang, dan papan dalam jumlah dan kualitas yang memadai bagi kehidupan Krama Bali.

2. Mewujudkan kemandirian pangan, meningkatkan nilai tambah dan daya saing pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

3. Mengembangkan pelayanan kesehatan masyarakat yang terjangkau, merata, adil dan berkualitas serta didukung dengan pengembangan sistem dan database riwayat kesehatan Krama Bali berbasis kecamatan.

4. Memastikan tersedianya pelayanan pendidikan yang terjangkau, merata, adil, dan berkualitas serta melaksanakan wajib belajar 12 tahun.

5. Mengembangkan sistem pendidikan dasar dan pendidikan menengah berbasis keagamaan Hindu dalam bentuk Pasraman di Desa Pakraman/Desa Adat.

6. Mengembangkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi yaitu berkualitas dan berintegritas: bermutu, profesional dan bermoral serta memiliki jati diri yang kokoh yang dikembangkan berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Krama Bali.

7. Mengembangkan sistem jaminan sosial secara konprehensif dan terintegrasi bagi kehidupan Krama Bali sejak mulai kelahiran, tumbuh dan berkembang sampai akhir masa kehidupannya.

8. Menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, produktif, berkualitas dan memiliki daya saing tinggi serta memperluas akses kesempatan kerja di dalam dan di luar negeri.

9. Mengembangkan sistem jaminan sosial dan perlindungan tenaga kerja yang komperhensif, mudah dijangkau, bermutu, dan terintegrasi bagi Krama Bali yang bekerja di dalam dan di luar negeri.

10. Memajukan kebudayaan Bali melalui peningkatan pelindungan, pembinaan, pengembangan dan pemanfaatan nilai-nilai adat, agama, tradisi, seni, dan budaya Krama Bali.

11. Mengembangkan tata kehidupan Krama Bali secara sakala dan niskala berdasarkan nilai-nilai filsafat Sad Kertih yaitu Atma Kertih, Danu Kertih, Wana Kertih, Segara Kertih, Jana Kertih, dan Jagat Kertih.

12. Memperkuat kedudukan, tugas dan fungsi Desa Pakraman/ Desa Adat dalam menyelenggarakan kehidupan krama Bali yang meliputi Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.

13. Mengembangkan destinasi dan produk pariwisata baru berbasis budaya dan berpihak kepada rakyat yang terintegrasi antar kabupaten/kota se-Bali.

14. Meningkatkan promosi pariwisata Bali di dalam dan di luar negeri secara bersinergi antar kabupaten/kota se-Bali dengan mengembangkan inovasi dan kreatifitas baru.

15. Meningkatkan standar kualitas pelayanan kepariwisataan secara konprehensif.

16. Membangun dan mengembangkan pusat-pusat perekonomian baru sesuai dengan potensi kabupaten/kota di Bali dengan memberdayakan sumber daya lokal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam arti luas.

17. Membangun dan mengembangkan industri kecil dan menengah berbasis budaya (branding Bali) untuk memperkuat perekonomian Krama Bali.

18. Meningkatkan pembangunan infrastruktur (darat, laut dan udara) secara terintegrasi serta konektivitas antar wilayah untuk mendukung pembangunan perekonomian serta akses dan mutu pelayanan publik di Bali.

19. Mengembangkan sistem keamanan terpadu yang ditopang dengan sumber daya manusia serta sarana prasarana yang memadai untuk menjaga keamanan daerah dan Krama Bali serta keamanan para wisatawan.

20. Mewujudkan kehidupan Krama Bali yang demokratis dan berkeadilan dengan memperkuat budaya hukum, budaya politik dan kesetaraan gender dengan memperhatikan nilai-nilai budaya Bali.

21. Mengembangkan tata kehidupan Krama Bali, menata wilayah, dan lingkungan yang, hijau, indah, dan bersih.

22. Mengembangkan sistem tata kelola pemerintahan daerah yang efektif efisien, terbuka, transparan, akuntabel dan bersih serta meningkatkan pelayan publik terpadu yang cepat, pasti dan murah.

PROGRAM PRIORITAS MENCAKUP 5 BIDANG

Bidang 1 : Pangan, Sandang dan Papan

Bidang 2 : Kesehatan dan Pendidikan

Bidang 3 : Jaminan Sosial dan Ketenagakerjaan

Bidang 4 : Adat, Agama, Tradisi, Seni dan Budaya

Bidang 5 : Pariwisata

Pembangunan 5 Bidang Prioritas tersebut mencakup pembangunan yang dipolakan dan diintegrasikan di seluruh Bali dan pembangunan yang dikembangkan sesuai dengan potensi masing-masing wilayah Kabupaten/Kota.

Catatan Seorang Nyoman Artha, Pendiri, Penggagas dan Inovator PASAR RAKYAT BALI ~ BALIZEN (15/07/2022) :

Upacara Yadnya di Bali, mungkin tidak sekedar ngaturang wangi atau sesajen belaka, tapi juga media pembelajaran yang dilakukan secara berkala dan konstant.

Ada 3 hal penting dalam setiap Upacara Yadnya, yaitu:

1. Bebantenan yang sarat simbul, setiap soroh banten ada arti dan maknanya.

2. Eedan Karya, atau Rundown Pelaksanaan Yadnya, dari awal sampai akhir, ini juga penuh dengan simbolik, dan sangat berkaitan erat dengan bagaimana bhuana agung dan bhuana alit bekerja.

3. Mantram yang diucapkan pada setiap Eedan Karya dan juga Bija Mantram dalam setiap langkah, baik yang terucap maupun yang tertulis atau yang tertuang dalam setiap banten.

Bali menyimpan semua pengetahuan rahasia ini, yang merupakan tugas Kita untuk mempelajarinya dengan seksama. Bukan mempertentangkan atau untuk merasa diri paling benar dan jumawa.

Kita harus berterima kasih kepada Para Ida Pengelingsir sami yang begitu luar biasanya telah mewariskan semua ini kepada generasi penerusnya.

Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.

Mantram adalah Puja Puji, ucapan ucapan yang diucapkan oleh yang menjadi Pemuput Karya. Itu penuh dengan makna yg terhubung dengan maksud dari sebuah even dalam sebuah Upacara Yadnya. Makna itu tidak hanya terucap, tapi juga tertulis atau terbentuk dalam simbul 3 dimensi, pada tetuasan atau hiasan sesajen yang tersoroh atau terkelompok dalam even tersebut.

Penulis & Aplikator : Kadek Dongker & Guntur Bisowarno