Dokumentasi RUANG DISKUSI PERTAMA Keris PUSAKA KAMARDHIKAN SINGASARIAN

Hits: 473

Papuajaya.com – Purwosari Purworejo Pasuruan Jawa Timur, Senen Wage, 27 Juni 2022. Malang Sebuah Ruang Diskusi dan berbagi pengetahuan, kesadaran serta pengalaman tentang Keris Singasari yang di inisiasi oleh Besalen Condroaji Singosari, Ruang Diskusi Pertama ini, yang dihadiri 34 Orang, 30 Laki Laki 4 Perempuan, 3 Anak Kecil, dilaksanakan di Pendopo Besalen milik Mpu Zaenal Fanani yang berada di Jl. Tumapel no. 67, kelurahan Pagentan, Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang.

Ruang Diskusi Pertama Pusaka Keris Singasari ini diselenggarakan dalam rangka proses penelusuran untuk menggenapi kelengkapan kajian segala aspek dan beragam pihak, yang dianggap bisa memadai untuk memberi masukan yang selayaknya dan sepantasnya, serta dapat mendukung pemantapan keinginan Ki Fanani dan Penggiat Budaya Singasari lainnya, untuk melakukan giat besar mereplika Keris Mpu Gandring atau justru Menjadi Sejarah Baru, Para Pelaku Sejarah Baru, Saksi Baru, Eksekutor Baru dalam Membuat Keris Kamardhikan Singasari yang Baru, untuk Negeri Nusantara Kita semua ini di Jaman Menuju 77 Tahun Indonesia Merdeka ini, 17/08/1945 ~ 17/08/2022, dalam bakti ketaatan sikap kerendahan hati dan ketulusan jiwa bagi Negeri Nuswantara Nusantara, sesuai kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Ruang Diskusi Pertama kali ini bertajuk “Doa dan Ngaji Sirek”, dimana kata SIREK itu munculnya dari model menulis~membaca secara kebalikkan, khas cara membaca kawan kawan dari malangan Malang Jawa Timur. dari kata KERIS~di balik berbunyi SIREK, KERIS-SIREK, acara ini dihadiri banyak kalangan dan sesepuh budaya dari Malang Raya, Sabtu Kliwon (18 juni 2022).

Seperti yang telah ditulis dalam flayer undangan, diskusi ini akan membahas Pusaka Singasari yaitu Keris Mpu Gandring, sebuah keris legendaris yang dimiliki oleh Ken Arok. Seperti yang kita tahu keris Mpu Gandring merupakan pusaka yang bersejarah bagi Singasari dan nusantara. Namun begitu, minimnya literasi dan artefak tentang keris terseut, inilah yang mendasari para penggiat budaya singasari mengadakan giat diskusi ini.

*INILAH PROSES AWALNYA*

Dalam mukadimahnya, Mpu Fanani membuka dengan fakta dan data perihal pengetahuan tentang Keris pusaka buatan Mpu Gandring ini hanya tercatat dalam Kitab Pararaton dan Negarakertagama. Selain itu sangat sulit didapati literasi yang memadai tentang keris yang diceritakan telah membawa kutukan karena ulah Ken Arok sendiri tersebut.

Terlepas dari itu, diskusi yang diawali dengan doa lintas keyakinan ini, menekankan tema Ruang Diskusi Pertama ini pada spirit dari hakekat pusaka keris Singasari sesungguhnya dibuat untuk pemersatu bangsa.

Perih bisanya dikaitkan dan di akui atau tidak, perihal keris Empu Gandring tersebut yang bisa menjadi satu pusaka era Singasari yang dimiliki keluarga Wangsa Rajasa, dan ke berhasilan untuk membawa kejayaan Nusantara dengan lahirnya pemimpin yang menyatukan nusantara dengan salah atu ekspedisi pamalayu yang luar biasa itu, perihal ini tentunya masih sangat terbuka untuk Kita diskusikan kebenaran dan kaitkannya, di dalam Ruang Diskusi selanjutnya, di lain waktu.

*INILAH NIATAN AWALnya*

Mpu Fanani, selaku tuan rumah yang sekaligus pemimpin ruang diskusi pertama ini, menghaturkan bahwa doa dan diskusi siang itu, adalah awal niatan untuk membuat “replika” dari keris Mpu Gandring yang mashur tersebut.

“yang kami ingin diskusikan, seperti apa Keris Pusaka Singasari yang khususnya pernah dipegang sang Amurwabumi, jawabannya bermacam-macam” tutur Ki Fanani membuka diskusi.

Demi kelancaran niatan ini, Ki Fanani mengaku akan rutin melakukan diskusi dan membuka ruang kritik masukan hingga 6 bulan kedepan.

Langkah ini adalah upaya Ki Fanani dan Penggiat Budaya Singasari Malang Raya, dalam mensukseskan niatan membuat replika Mpu Gandring, yang esensinya untuk tujuan kebaikan bagi sang pemimpin dan seluruh negeri, bukan untuk membangun sejarah kutuk kutukan.

“memang kita nanti akan membuat satu tim riset dalam upaya ini, yang nantinya akan melibatkan, akademisi, empu empu dari 5 kota, sesepuh yang mampu berkomunikasi dua arah dengan alam sejarah singasari dan lainnya yang terkait” terang ki Fanani.

Untuk diketahui, rencana pembuatan keris ini Ki Fanani berencana berkolaborasi dengan Empu Keris yang selama ini mempunyai keistimewaan tersebut dan telah terjalin komunikasi yang baik dengan dirinya.

“sementara ini belum, tapi paling tidak nanti ada empu yang terkenal dari Jawa Tengah Ki Subandi, minimal yang juara juara seperti yang dari Surabaya Ki Suhartono Diningrat, Ki Sukoyo KRHT Mojosari Mojokerto, dan ada satu lagi yang di Malang ini juara satu tahun 2012 ini yang di Tanjung, empu tersembunyi juga ini, dan ada satu lagi yang kemungkinan nanti kami ajak itu empu dari Madura” ungkap Ki Fanani

Sebelum menuju pembahasan lebih dalam tentang sejatinya dan sesungguhnya keris Mpu Gandring, Mantan ketua Lesbumi Kabupaten Malang ini pun menyampaikan kisah terwujudnya Keris Jaya Dwipa Gunungan Nuswantara yang terpajang indah anggun penuh wibawa di depan Ruang Diskusi tersebut. Keris yang telah di jamas di awal diskusi, oleh Ki Widarto, Ki Wandi, Sepasang Suami Isteri Ki Lelono berdua bebarengan, dan Ki Fanani sendiri, Keris dengan bentuk gunungan ini wujud dari keinginannya ditahun 2013 untuk memberi sumbangsih Keris Jaya Dwipa Gunungan Nusantara tersebut kepada museum Singasari. Sebuah keris yang melalui kajian penelitian dan masukan dari para sepuh budaya piagem ini. Namun, Ki Fanani tidak menyampaikan alasan kenapa Keris Jaya Dwipa Gunungan Nuswantara masih berada di Besalen Miliknya.

Keris Pusaka bethok JAYA DWIPA dengan lipatan 8181 dibuat berdasarkan petunjuk leluhur lewat spiritualis dari Gresik.

Pada waktu yang hampir bersamaan Pusaka GUNUNGAN NUSWANTARA tercipta dalam rangka mendampingi kegiatan REKONSILIASI TIMUR BARAT dikomplek Paseban Agung Tri Panca Tunggal Kuningan dengan tema RITUAL AGUNG KEBO MULIH PAKANDANGAN pada Tahun 2018

“Keris Jaya Dwipa Gunungan Nuswantara ini sudah ada atau terwujud di tahun 2013 yang lalu” ujarnya

Lebih lanjut Ki Fanani menjelaskan bahwa Keris Singasari adalah Pusaka yang sempurna dalam penggarapannya. Dan kata dia itu di akui oleh para empu keris di nusantara ini.

“… dari besinya, racikannya, pamornya, bagaimana kalau Keris Pusaka Kamardhikan Singasarian itu keluar dengan Sekar Kacangnya, Jenggot greneng, srawean, ada geger sapi, geger welut, itu hampir dikagumi semua orang” ujar Ki Fanani, sebagai tuan rumah dan Eksekutor Mpu Kris Pusaka Kamardhikan Singasarian yang bakal di garap tersebut.

Dalam diskusi kurang lebih 2 jam ini, banyak masukan yang dilontarkan para peserta dalam spirit untuk merumuskan baiknya keris yang nanti di garap dengan tetap memegang berpijak pada masa lalu untuk masa kini dan masa depan.

Pemahaman ini di lontarkan salah satu peserta dari Saka Nusantara Malang.

Masih dari Saka Nusantara, kali ini Lukman Hakim yang menerangkan bahwa saat Empu Gandring di ciptakan di masa itu, peta politiknya sedang semrawut dan penuh konflik, sebagaimana yang sudah tertuang dalam Kitab Pararaton, dan lanjutnya sesuai inspirasi di Kitab Pararaton tersebut,

“Saya akan menambahkan, dari kaca mata politik, tentang Singasari waktu itu, menurut yang ada di Kitab Pararaton, Ken Arok dan satria piningit. Keris itu akan menjadi terkenal ketika menjadi khusus ketika siapa yang memakai, siapa yang sebenarnya yang membawa, kalau keris itu saya yang membawa tidak mungkin seterkenal Ken Arok. Namun, Ken Arok saat itu muncul dalam situasi penuh konflik, sama seperti hari ini kalau saya gambarkan” papar Ketua Saka Nusantara.

Diskusi yang dihadiri banyak tokoh budaya di antaranya Ki Karebet, Ki Lelono Suami Isteri (Batu), Saka Nusantara baik ketua maupun anggotanya ada 5 orang, penggiat budaya dari Polowijen, Guntur Bisowarno S.Si, Apt (Praktisi Seni Budaya & Adat Tradisi Nusantara) dari Purwosari Pasuruan, Gus Yusuf (PP Daar Salaam, Pasuruan), Ki Wandi, Ki Totok Teguh Rustanto, Ki Widarto, Ki Yusuf, Ketua Perkumpulan Kedhaton Singasari, Edhi S. Yanto dan Cak Ndas Ndasto Komunitas Perupa Malang, kawan kawan Lesbumi, para sejawat di Lingkungan Rumah Ki Fanani, semuanya merupakan penggiat dan pelaku Budaya Singasari.

Dalam Ruang Diskusi Pertama ini pun mencatat banyak masukan antara lain, nantinya ketika Keris Pusaka Kamardhikan Singasarian ini dibuat baiknya memang benar enar ada di dalamnya, kandungan Energi Spirit Pemersatuan dan Kebersamaan Kesadaran Bersama Se Nuswantara, sebagaimana spirit esensial yang sudah di kandung di dalam Spirit Kris Keris Singasari sesungguhnya yang sudah bertebaran di seluruh nusantara. Antara lain berupa dukungan himpunan doa dari lintas agama, berkah permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari banyak unsur pemeluk agama, dan upaya digunakan beragam unsur besi secara lengkap, diketahui oleh para empu ahli keris nuswantara, ada sebanyak 8 jenis logam.

*INILAH HARAPAN SEJATINYA*:

Hal ini dengan harapan Kris SIREK KERIS Pusaka Kamardhikan Singasarian tersebut benar benar untuk Negeri Nuswantara ini, nantinya benar benar bisa menjadi milik masyarakat, berdampak positif dengan pamor energi berkebaikan utama buat masyarakat negeri nuswantara nusantara ini dan mendapat restu banyak pihak untuk kebermanfaatannya dan segenap hikmah, hidayah serta karunia dari Nya.

*SINGASARI itu Energi Spirit dan Gerak Aplikasinya adalah PEMERSATU NEGERI dan Bhumi*

Perihal ini juga diyatakan dalam bahasa dan bahasan oleh mata kesadaran jiwa dan serial perjalanan napak tilas laku batin spiritual Gus Yusup dari Pondok Pesantren Daar Salaam Rembang Pasuruan, di salah satu bagian tanya jawab sesi Ruang Diskusi Pertama itu, perihal telaah mata batinnya untuk peranan Keris Pusaka Kamardhikan Singosarian Jaya Dwipa Nuswantara, yang terpampang persis di depan tempat duduknya Beliau.

Pernyataan dan pertanyaan Gus Yusup juga di kuatkan oleh kualitas laku perjalanan sejarah pengetahuan yang sangat mendalam dari Ki Totok Teguh Rusanto dan Ki Wandi dua dari 4 Sesepuh Singasari dari Kedhaton Singasari yang hadir saat itu, perihal Keris Jalak Bethok Polos Khas Keris Singasarian yang memiliki kandungan dan bauran utama dalam membangun persaudaraan dan persatuan negeri nuswantara nusantara Kita semua ini.

Sajian dan ramuan Ruang Diskusi Pertama ini semakin menggetarkan sukma dan kesadaran jiwa spiritual Kita yang berhasil menyimaknya berkat hidayahNya dari Ki Widarto, mengurai makna sari pati esensi energi dan kandungan serta bau sastra bauran dari PUSAKA KERIS SIREK dalam Seni Budaya Adat Tradisi Jawa, sebagai Sesepuh Singasari Perkumpulan Kedhaton Singasari yang sudah terbukti memiliki karuniaNya berupa keahlian Tembang dan Sastra Jawa.

Sumber Tulisan : dari Tulisan Dokumentasi Nasai PC Lesbumi NU Malang, Minggu Legi, 19 Juni 2022, sesudah Kita olah rasa sasmita, ramu ulang dan adanya kebutuhan untuk menggenapi beberapa hal, karena sama sama hadir dan terlibat di dalam Ruang Diskusi Pertama ini.

*INILAH LITERASI PRIMER UTAMA dari Kris Pusaka Kamardhikan Singasari 2022*:

Dari masukan Ki Hendri Reksa Aksara, Malang Jawa Timur, Ahli Aksara dari 6 Jaman Utama Aksara Jawa Baru, Aksara Jawa Kuno, Aksara Sansekerta, Aksara Kawi, Aksara Pallawa dan Aksara Brahmani, disebutnya oleh Beliau perihal adanya Praśasti Singhasāri yang akṣaranya sangat indah dan mudah dibaca dari semua prasasti yang ada di nusantara, yang sekarang berada di Museum Indonesia Jakarta dan ber Saka tahun 1273 Syaka (1351) ada Aksara berbunyi, YAWA (SUBUR) DWIPA (PULAU), MANDHALA (TEMPAT), YAWA bisa dikatakan juga JANAPADA (Surga didunia).

Artinya dengan adanya Sumber Literasi Primer Utama dari Prasasti Singhasari ini Keris Pusaka Kamardhikan Singasari besutan Mpu Keris Singosari Ki Fanani, bertajuk JAYA DWIPA GUNUNGAN NUSWANTARA di atas, bisa terkuatkan dengan Literasi Primer Utama Keris Kamardhikan Singasari Kali ini, yang salah satunya bisa berujuk pada Prasasti Singhasari tersebut, yang menuju bau sastra dari KRIS SIREK ~ SIREK KERIS di bawah ini, yaitu :

KERIS itu bahasa jawa baru dari singkatan kata DEN IKER TUMEKANING ARIS artinya KEIMANAN DIPEGANG TEGUH AGAR MENCAPAI KEBIJAKSANAAN.

Sehingga Kita punya dasar kuat bahwa perihal keris kuno (dhuwung) dan keris baru, atawa keris aksara jawa baru atawa keris pusaka kamardhikan adalah PUSAKA NUSANTARA berbasis keimanan yang kuat kepada TUHAN Yang MAHA ESA, dan selanjutnya, semuanya adalah perpaduan bahan utama, skill keterampilan, jam terbang, logika, akal sehat dan ilmu ngelmu yang nyata serta bisa dibuktikan kebenaran se nyata nyatanya bisa.

Penulis & Aplikator : Guntur Bisowarno