Dialog Rasa Cahaya dalam Diam Tenang *WATU SADU ~ SADU WATU* di Jagad Renovasi Total 2020.

Hits: 172

Papuajaya.com Manggihan, Sumberejo Purwosari Pasuruan, 28 September 2020 Sudah hampir 2 jam lebih, memasuki awal hari ini Senen Pahing, 28/09/2020, melewati jam 24.00 menuju 02.00 WIB, Kita bersama Pak Agus Karyadi Perintis Pelopor EKSPEDISI ARJUNO SEMERU BROMO 2020 ~ 2021, menemukan fenomena kesadaran adanya Dialog Rasa Cahaya dalam Diam dan Tenang di 2 Lokasi yang terahmati oleh Tuhan, Alam dan Para Pendahulu Suci sebelumnya di Tanah Itoe, di Tempat Itoe, satu di Titik Nol SEMERU ARJUNO Titik SEM~AR [ Baca : di kupas dan diulas di edisi berikutnya red.] dan dua di Lembaran Halaman dan Batu WATU, WATU SADU Dusun Manggihan Kaki Gunung Arjuno Itoe.

*Dalam Diam Tenang, Bertobat dan Yakin padaNya terletak Kekuatanmu*

Metodologi itoe juga berjalan dalam Kajian dan Analisa BATU WATU SADU di Dusun Manggihan Kaki Gunung Arjuno, adaNya wadahNya teknologiNya dan media rasa cahaya energi enerjologiNya itoe.

Sesudah 25/09/2020 terjadi Fenomena Mandala 8 Cahaya Peradaban Cahaya di Jagad Renovasi Total 2020 di WATU SADU Manggihan Kaki Gunung Arjuno.

Keesokkan harinya, 26/09/2020 bertepatan dengan HARI KUNINGAN, Kaji Mohammad Moe Pelopor dan Perintis Hari Mata Air Dunia di setiap tanggal 29 Juli sejak 2019, 2020 dan seterusnya; sesudah mencoba memastikan bentuk kumparan pola mode energi enerjologi di Limas Bamboo Segi 8, maka di bandingkannya, dengan Pola Mode Rasa Cahaya Energi Enerjologi yang ada di dalam BATU BESAR BATU GEDE : WATU SADU, Kaji Moe menemukan rasa energi cahaya yang ada di dalam batu dan para batu yang sudah terahmati oleh Sang Pencipta bersama para pendahulu yang sudah sampai pada Peradaban Rasa Cahaya menunggunakan metode Watu Batu seperti itoe di beberapa tempat yang berhasil dikunjunginya termasuk WATU BATU HAJAR ASWAT dan WATU BATU Masjidhil Aqsa, menunjukkan bahwa rasa cahaya BATU WATU yang sudah TERAHMATI~Nya menjadi sangat cerdas dan bersifat bolak balik dua arah pola rasa cahaya energi enerjologi~Nya dan mampu di ajak dialog, seperti yang dikuatkan oleh Mas Muhamad Cahyo Utomo selaku pemandu pelestarian seni budaya spiritual Dusun Manggihan Kaki Gunung Arjuno tersebut, adaNya wadahNya yang selama ini sudah mengalaminya sendiri.

Terkuwak Kunci di dalam Kunci Energi EnerjologiNya dalam Teknologi Peradaban Rasa Cahaya dengan Metode Dialog Diam Tenang Bertobat dan Yakin padaNya di media rasa cahaya Batu WATU SADU ini.

*Etnosains dan Antropologi Dusun Manggihan Kaki Gunung Arjuno*

Hal tersebut di kuwatkan dengan Sejarah Peristiwa Kejadian dan Kisah dari 3 bersaudara yang bersama sama menjalani Laku Seni Budaya Spiritualnya di 3 Dusun yang saling berdekatan di Desa Sumberejo Kaki Gunung Arjuno tersebut, yaitu yang di Dusun Ketuwon Mbah Syurgi, di Dusun Kucur Mbah Mintorogo, dan Mbah Mangunrejo di Dusun Manggihan;

Ketiganya merupakan sinergitas keter panggilan dari pertemuan ~ kemanggihan ~ dipanggih ~ kecanggihan rasa sedzati sejatinya rasa dalam memahami panggilan kehendak rasa cahaya Sang Pencipta di Alam, di WATU WATU Terahmati tersebut dan di dalam dirinya sendiri, khusus di dalam teknologi rasa cahaya~Nya di Manggihan WATU SADU yang sudah kemanjingan Kepanggihan Rasa Cahaya~Nya yang terdahulu yaitu “Mbah Sadu” sendiri, sehingga rasa cahaya Mbah Mangunrejo saat ini menjadi DUWA jadi SATU : Makanya di sebut WATU SADU, duWA saTU~SAtu DUwa, manunggaling rasa cahaya Mbah Sadu dengan rasa cahaya Mbah Mangunrejo, saudara ke 3 dari Mbah Syurgi ~ Mbah Mintorogo di WATU SADU tersebut.

Di Ketu alias Topi Peci Kopiah yang artinya dimahkotahi seperti apa yang WATU SYURGI Ketu~Won di Dusun Ketuwon adanya, dan yang di WATU MINTOROGO di Dusun Kucur, dikucuri di curahiNya, ter~rahmatiNya oleh Sang Pencipta seperti apa, pada Raga Watu Mintorogonya, sementara itu apa Kepanggihan KeManggihan, Sinergitas Kecanggihan Apa di alam di dalam JIWA WATU SADU~Nya di Dusun Manggihan ini, perlahan lahan melalui studi metode kualitatif PAR Partisipatory Active Research Kita ini berhasil menguaknya setahap demi setahap esensi dan substansi hikmahNya rasa cahaya dalam para BATU WATU tersebut.

*Membangun rasa Cahaya Keraharjoan Keraharjaan Kesentosaan Rasa Hidup Kehidupan*

Rasa Reksone Bejo, rasa kehendak~Nya bejo, rasa keberuntungan Kita dalam rasa kehendak~Nya kehendak, rasa keberuntungan dari kehendak~Nya dalam petunjuk demi petunjuk~Nya yang tetap terjadi, rasa keberuntungan kehendak~Nya dalam hidup sedzati, sejati~Nya hidup dan rasa sedzati sejati~Nya rasa Kita masing masing di Jagad Renovasi Total 2020.

Kupasan Kajian Dialog Diam Rasa Cahaya oleh Kaji Moe dengan Ki Warno di WATU SADU

*Pertemuan Esensi Substansi Pring Genthong dan Kendhi*

“Proses kerja kinerja energi enerjologi dari Mata Hati Kita, Mata NUR AINI Kita : Mata Kesadaran Mata PRING PRINTAH~Nya ENGSUN INGSUN Sang Pencipta di dalam dada hati Kita masing masing, untuk bertemu Perintah~Nya menjadi Manusia Genthong~Nya, yaitu wujud pelaksanaan total dawuh Perintah~Nya di dalam Genthong Kawasan Bioregion Wilayah tempat tumbuh kembang hidup kehidupannya, ada Pengetahuan Ilmu Ilmu Pengetahuan, Perihal Siapa Dirimu, apa Tugasmu sebagai Manusia WATU SADU : Manusia punya SATU TUGAS DUMADI SADU WATU WAhana tata titi tenteram raharjo TUgas MU dalam Kucuran Mata Air Peradaban Minta RAGA NOGOSARI, NOTO ROGO, NATA RAGA, bersatuNya rasa cahaya kehendakNya dalam raga Kita, Mata Air Peradaban Mahkota Kemuliaan~Nya dalam Ketu Kopiah Jiwa TUWA WATU Ketuwon Kita, dalam rasa cahaya ruh Kita, untuk menyambut Keridhoan Kepanggihan Kecanggihan kedirianmu Total di jamanmu dan lokalitas Identitas Geografimu IG hidup berkehidupanmu.”

“Ada Persaksian dalam KejadianNya yang sempurna seperti itu, dalam DIALOG Diam Rasa Cahaya tersebut”.

“Percakapan Suci dan Percakapan Diam Rasa Cahaya Maha Cahaya dalam Percakapan ANTA~RA Rasa Cahaya, dengan ANTA~RA Rasa Cahaya Hidup dan Rasa Cahaya Ke Hidupan~Nya di WATU SADU, karena masing masing makhluk~Nya PASTI ketitipan Rasa Cahaya Dzat~Nya dan hanya manusia yang berakal budi pekerti luhurlah, yang mampu berbela rasa sedzati sejatinya rasa; untuk mampu mengolah dan mengkaji Hikmah dari Kesadaran Skala Rasa Cahaya Utama tersebut.” begitulah penutup Dialog Kaji Moe dengan Ki Warno 26/09/2020, malam itoe untuk mengurai Fenomena Peradaban Rasa Cahaya WATU SADU 25 sd 26 September 2020 di Jagad Renovasi Total 2020.

“Jadi esensi substansi doa doa lintas agama, lintas budaya, lintas penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, terutama Doa Paceklik/Pandemic Covid 19 ini untuk Evaluasi Jagad Ingsun Jagad Kedirian Kita semua, untuk menemukan Jati Dirinya sesuai rasa kehendak Gusti Kang Akaryoning Jagad” begitu jelas Bunda Susi; pernyataan tersebut sungguh menguatkan kajian dan analisa metode rasa cahaya BATU WATU SADU; manusia berjati diri yang mampu berdialog diam rasa cahayaNya di semua tempat dan BATU WATU yang sudah ter~rahmati~Nya, termasuk WATU SADU Dusun Manggihan tersebut.

Penulis Ki Warno dan Guntur Bisowarno