10 Kontribusi Ngesti Wedharing Budaya dalam Kebangkitan Budaya Peradaban Pasuruan

Hits: 1953

Purwosari Purworejo Pasuruan Jawa Timur, Jumat Legi, 7 Oktober 2022. KEBANGKITAN BUDAYA PERADABAN di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur sungguh terahsa dan terbaca dari segenap gerak gerik, aktivitas dan aktivasi yang dilakukan oleh Ngesti Wedharing Budaya Pasuruan Jawa Timur.

Sejak 2019 Kita Bertemu dan Berjumpa dengan Pimpinan NWB “Ngesti Wedharing Budaya” Ki Winarno Sabda dengan Sekretarisnya Ki Kuswanto.

Totalitas dan Komitmen Ngesti Wedharing Budaya salah satunya adalah tekad bulat pimpinannya NWB yaitu Ki Winarno Sabda, untuk melakukan Pagelaran Wayang Kulit setiap Malam Jumat Wage alias Kamis Pon, yang disebutnya sebagai PAGELARAN WIYOSAN yaitu Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik untuk memperingati hari weton, pasaran hari lahirnya Ki Winarno Sabda sebagai hari sangat sakral dalam ilmu ajaran adi luhung para leluhur jiwa suci mulianya.

Dasar Piranti Aktivitas dan Aktivasi NGESTI WEDHARING BUDAYA Pasuruan adalah ACARA WIYOSAN, Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik, di setiap Malam Jumat Wage dan Latihan serta Monitoring Evaluasi Karawitan untuk PEDALANGAN setiap hari minggu di Kasepuhan Kebon Candi dan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan.

Dalam perjalanan selama Tahun 2019 hingga mendekati akhir Tahun 2022 ini, selama 3 Tahun Kita sudah menemukan “pusat sumber belajarnya” dan mencari tahu secara bertahap untuk langsung belajar pada para nara sumbernya ( baca: Kajian Sumber Belajar dan Belajar Sumber red.) dengan mengamati, mengalami bersama sama, mendengarkan dalam suasana sesungguhnya di lokasi pertunjukkan demi pertunjukkan dan terlibat langsung di dalam perjuangan serta pergulatan Ngesti Wedharing Budaya untuk menunjukkan Jati Diri dan Kontribusi Utamanya dalam Bidang Seni Budaya Adat Tradisi Nusantara Indonesia Raya Kita ini,

yang selanjutnya Ngesti Wedharing Budaya, Kita singkat menjadi NWB.

Sesudah merenungkan dan meditasi secara khusus sejak Sejarah Peristiwa Kisah dan Kejadian Pagelaran Wiyosan NWB Putaran ke 2 Periode ke 3 di Kampus Uniwara Kota Pasuruan dan dalam segenap tahapan komunikasi serta pertumbuhan pengertian pengertian baru hingga pemahaman yang semakin mendalam, selama proses persiapan Pagelaran NWB di Joglo Sekar Taji Tejosari Tejowangi, di Malam Jumat Wage, Tanggal 3 November 2022, Hari Kamis Pon, berupa Wiyosan NWB Putaran ke 3 periode ke 4.

Kita berhasil menemukan 10 Wastra untuk Kontribusi NWB dalam Kebangkitan Budaya Peradaban Pasuruan di bawah ini :

*Pertama : Melahirkan Dalang Baru*

NWB berhasil menemukan Bakat Terpendam dan Potensi yang Terbangunkan serta Spirit Pembelajaran yang sungguh tangguh, dalam diri Ki Harso Waluyo untuk tampil menjadi Dalang Pagelaran Wayang Kulit dari Joglo Kedjayan Kejayan Pasuruan Jawa Timur.

(baca : sudah menggenapi debutnya 3 x tampil menuju tampilan ke 4 red.)

Dasar yang kokoh dari kemampuan Ki Harso Waluyo dalam mengerti nada nada musik dan bunyi swara gamelan serta kesadarannya akan perbedaan intonasi bunyi swara konsonan vokal dalam aksara jawa kuno bisa menghasilkan perbedaan arti dan maknanya, merupakan modal utama dalam kelahiran dan kebangkitan Pedalangan dalam Membangun Budaya Peradaban di Kabupaten Pasuruan.

*Kedua : Setiap Bulan Melakukan Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik*

Itulah Tulang Punggung Laku Lampah Kinerja Perjalanan NWB dalam segenap sepak terjangnya selama 4 tahun terakhir ini adanya.

*Ketiga : Mendorong & Mendukung Berdirinya Sanggar Budaya Kedjayan Pasuruan*

Ki Winarno Sabda di hadapan Ki Kuswanto, Ki Suwarno dan Ki Guntur Bisowarno telah menyatakan keteguhan dan ketulusan hatinya yang paling dalam untuk sepenuhnya mendukung dan bersedia melakukan yang terbaik bagi kelahiran dalang baru Ki Harso Waluyo serentak upaya Ki Harso Waluyo untuk menjadikan Sanggar Budaya di Joglo Kedjayan menjadi resmi di dalam tatanan sistem pemerintah Kabupaten Pasuruan.

*Keempat : NWB Bisa Berkolaborasi dan Bersinergitaa dengan Beragam Keahlian Seniman dari Berbagai Daerah*

Hal ini sudah diakui oleh Ketua PEPADI Kota Pasuruan, Ki Wiryono Dwijo Utomo, dan Ki Jito bidang Karawitan PEPADI Kota Pasuruan, dan JUGA nampak pada bertambahnya jajaran para sinden dari beragam Kota di Kabupaten Pasuruan hingga Kabupaten Mojokerto, sedangkan para pengrawit, bahkan dapat dukungan dari Ki Yono beserta Putranya Ki Agus dari Kota Jember dan tentunya kesetiaan serta ketangguhnya para penabuh pengrawit yang selalu setia menemani serta melayani Ki Dalang Winarno Sabda dalam menggelar setiap Pagelaran NWB yaitu Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik di Kabupaten Pasuruan khususnya.

*Kelima: NWB mampu Mewarnai Perkembangan dan Pengembangan Kampus Uniwara Kota Pasuruan*

Dengan kehadiran NWB di Kampus Uniwara, maka para jajaran pimpinan Kampus Uniwara Universitas PGRI Wiranagara Kota Pasuruan dan terutama para mahasiswa barunya, bisa mengalami langsung keberadaan dan fungsi pendidikan serta media pembelajaran menjadi manusia seutuhnya dan menjadi manusia yang mengenal jati dirinya dalam tugas fungsi perutusannya di muka sesuai profesi dan keahliannya masing masing, melalui Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik dengan Lakon SEMAR MBANGUN KAHYANGAN.

*Keenam : NWB Mampu Berkolaborasi dan Bersinergitas Bersama PEPADI KOTA & PEPADI KABUPATEN Pasuruan*

Tidak ada yang kebetulan Pada Putaran WIYOSAN ke 2 Periode ke 4 Ki Harso Waluyo menjadi malam Perdana Awal Mula Jadi Dalang, dengan Lakon Tumurune Wahyu Purba Sejati, sejarah Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik, berduet dengan Ki Winarno Sabda Pimpinan NWB, di Pagelaran tersebut Ketua PEPADI KOTA Ki Wiryono Dwijo Utomo turut menabuh alat musiknya disaksikan juga beberapa anggota PEPADI Kota Pasuruan, selain itu JUGA Penampilan WIYOSAN di Grati, Ki Wiryono juga turut serta ambil bagian dalam menabuh alat musik pengiring Pagelaran Wayang Kulit nya yang semalam sunthuk tersebut.

*Ketujuh : NWB Bersedia Berkolaborasi & Bersinergitas Dengan Pemerintah Kota dan Kabupaten Pasuruan*

Sejak di Joglo Kedjayan di selenggarakan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Cipto Sabdo Utama dalam rangka Sosialisasi Bidang Cukai 2022 perkara Kasus Rokok Ilegal dalam Koordinasi Gugus Fungsi Satuan Pamong Praja Melalui Budaya Lokal Pagelaran Wayang Kulit.

Rencananya berbasis tugas dan fungsi yang sama bersama Pemerintah Kabupaten Pasuruan, melalui gugus fungsi Satuan Pamong Praja, NWB bakal menggelar Pagelaran Wayang Kulit Klasik di Kecamatan Gondangwetan, untuk media Sosialisasi Bidang Cukai perihal ROKOK ILEGAL melalui Budaya Lokal, dalam hal ini melalui Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik semalam sunthuk di Kecamatan Gondang Wetan Pasuruan.

*Kedelapan : NWB siap memberikan tuntunan tatanan dan tontonan dalam masyarakat luas*

Kita mengerti dan memahami perkara ini, karena setiap judul Lakon Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik penuh dengan wejangan dan suluk jalan menuju Tuhan serta pedoman filsafat filosofi hidup berkehidupan, untuk mengenal akunya aku dan berjati diri yang pasti dalam segenap potensi diri para pelaku NWB dan para penontonnya dimanapun mereka berada menyaksikannya, baik off line maupun on line.

Di dalam Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik sesungguhnya terkandung Kajian Sains Fisik dan Sains Spiritual, mengenai referensi Perihal Kajian Sains FISIK dan Sains SPIRITUAL Kita sudah memiliki sumber belajar dan belajar sumbernya, yaitu :

Sejak Tahun 2022 Bamboo Spirit Nusantara Support System 2022, pada tanggal 17 Agustus 2022 menetapkan adanya 2 Macam Sains yaitu Sains FISIK dan Sains SPIRITUAL

Mengenai adanya 2 Jenis Sains dalam Budaya Peradaban Manusia dan Sejarah Peristiwa Kejadian Kisah Seni Budaya Adat Tradisi dan Sejarah Nusantara, yaitu Sains FISIK dan Sains SPIRITUAL,

Kita memang membutuhkan media komunikasi informasi dan komunikasi kerja yang memadai untuk menjelaskan kepada kalayak masyarakat terutama generasi milehnial dan generasi lama yang membutuhkan peneguhan serta pencerahan perihal adanya 2 Jenis Sains tersebut.

Dengan adanya Sains Fisik dan Sains Spiritual yang mendesak Kita untuk membutuhkan cara membacanya terhadap semesta himpunan data dan fakta sejarah serta realita, yang meliputi hasil proses tindakan berpikir, berucap dan bertindak, yang menjadi 3 landasan manusia dalam melakukan proses perwujudan semesta himpunan budaya peradaban manusia di seluruh bhumi suci ini, hal tersebut sudah ada dan terkaji secara logis dalam buku Saudara Khairuddin Lubis, yang bertajuk MEMBUKA TABIR POTENSI DIRI terbitan Bamboo Spirit Nusantara 2022, yang bisa anda peroleh melalui akun aktif fb beliau juga bisa pesan via wa Galeri Dharma Arjuna dengan harga buku 150 ribu plus ongkir sesuai lokasi anda dari depok jakarta, kontak Galeri Dharma Arjuna :

https://wa.me/message/R7EQHHG5GL2ME1

*Kesembilan ‘ NWB siap berkiprah di manapun berada dalam menyajikan Budaya Wayang Purwa sebagai Budaya yang Adi luhung*

“Wayang, Dalang, Sinden dan Panjak beserta Seperangkat Alat Gamelannya adalah Teknologi Seni Budaya Adat Tradisi Manusantara Indonesia berbasis Sains Teknologi Budaya Peradaban Kuno Modern Klasik, ” demikian peneguhan Ruh Anda Gondo Kuswanto dari Bekasi Jawa Barat yang mampu membaca semua goresan di candi candi dan prasasti di seluruh dunia, terlebih itu barang ada di jaman sebelum tahun 1200 adanya.

*Kesepuluh : NWB siap memberikan respon positif yang bernuansa budaya, untuk memperkuat jati diri bangsa yang berjiwa luhur*

Hal ini Kita saksikan dalam Lakon Pagelaran Semar Mbangun Kahyangan, di Kampus Uniwara, Universitas PGRI Wiranagara Kota Pasuruan.

*BATIK KITAB BAKTI WAYANG adalah Gambaran Derajat Kebahagiaan yang terbentuk dan terbangun dalam Seni Budaya Tradisi Indonesia*

Terbentuknya Kesadaran Bahwa BATIK KITAB BAKTI WAYANG adalah gambaran kebahagiaan dari kualitas upaya pencapaian kesadaran kedirian Kita, saat Ki Winarno Sabda, Pimpinan Sanggar Budaya Ngesti Wedharing Budaya dari Kabupaten Pasuruan, Memimpin Pagelaran Wayang Kulit Jawa Klasik di Universitas PGRI Wiranagara, Kota Pasuruan, Kamis Pon, 29 September 2022, Malam Jumat Wage, dengan Lakon Pagelaran Wayang Kulit SEMAR BANGUN KAHYANGAN, dalam Seni Pedalangan Malam itu, oleh Ki Winarno Sabda, Eyang Semar di dalam lakon malam itu,”… menegaskan bahwa kahyangan yang ku bangun bukan kahyanganmu, tapi yang ku bangun adalah jiwaku, yang kubangun jiwa sempurna para pandhawaku, yang ku momong dan ku dampingi, yang kubangun adalah kebahagiaanku sendiri dan kebahagiaan dari para Ksatriya Utama yang ku dampingi, yang ku bangun adalah kesadaran diri mereka untuk menghadapi segala rintangan, setiap halangan dan beragam ujian serta cobaan hidup kehidupan mereka, terlebih lebih dalam kelinuwihan untuk membangun kesaktian dan keampuhan mereka dalam menjalankan serta menyelesaikan TUGAS CINTA BAKTI LUHUR mereka di muka bhumi ini, serta CINTA BAKTI SUCI mereka dalam MANUNGGALING RASA SEJATI HIDUP KEHIDUPAN MEREKA, sesuai TITAH DAWUH SABDA, yang mereka emban dan mereka terima dari Sang Maha Pencipta adaNya…”

Penulis & Aplikator : Guntur Bisowarno